Hari-Hari Perpisahan

“Oh God, It’s all too much”

Pernahkah kalian merasa punya keluarga kedua? Kalau pernah berarti kalian sangat beruntung. Gue yang introvert ini, awalnya gak bisa ngebayangin bakal ngalamin perasaan seperti ini. Perusahaan tempat gue kerja bahkan lebih care dari pada keluarga sendiri. Mungkin gue dilahirkan dalam klan Uchiha, hehe… Keluarga yang berisikan orang-orang pendiam dan cuma ngomong seperlunya aja. Tapi akhirnya kebersamaan dengan keluarga kedua ini harus berakhir.

@pribadi_inst

“Bukankah selalu ada akhir untuk setiap hal.”

Gue putusin buat resign dari pekerjaan dan kantor yang gue cintai. Untuk apa? Kenapa? Tentu saja untuk tujuan utama gue, kuliah S2. Mbak Karina yang jadi atasan gue sampai mlongo karena hal ini. Dengan muka juteknya yang cantik itu doi tiba-tiba getok kepala gue pakai kamus Bahasa Jepang-Indonesia yang tebalnya gak karuan.

Bos : Baru aja kamu dapat penghargaan karyawan terbaik bulan lalu, kenapa sekarang resign? Mabok ya?

Gue : S2

Bos : Pasti Tasya yang nyuruh!

Gue : Kurang lebih…

Lalu doi jabat tangan gue sambil ngomong,

“Bahkan hal paling indah sekalipun akan berakhir suatu saat nanti.”

Setelah itu gue keluar dari ruangan, pas buka pintu, teman-teman yang lain pada nguping di depan pintu. Untuk sesaat pikiran gue blank, saat sadar gue sudah duduk dikerumuni orang-orang itu. Ada beberapa teman yang nangis pas gue bilang resign, terutama Nadine sama Jessica yang paling sering se-tim (mungkin mereka naksir gue). Tapi yang ngeselin, Albert yang jadi trainer gue dulu malah ketawa-ketawa gak jelas (sudah jelas gila).

“Keluarga…?”

Mungkin inilah yang kurang dari hidup gue selama ini, kehangatan. Melihat berbagai reaksi mereka, bikin gue sadar… Mungkinkah gue sepenting itu?! Entahlah.

Lalu entah nongol dari mana, Mbak Karina tiba-tiba nempelin earphone miliknya ke kuping gue. Takaramono punya FLOWER FLOWER mulai membanjiri sistem pendengaran gue. Sepertinya gue bakal kangen sama si jutek yang satu ini.

Ada lanjutannya…!

Fish in the Pool (OST. The Case of Hana and Alice)

Biarkan aku mendengar suara detak jantungmu pada jari-jari kakiku.

Ketika kau menyentuhkan telingaku di dadamu.

Hujan sangat lebat.

Aku tikus kecil yang kuyup, disini basah dengan selimut hujan dan aku memimpikanmu.

Aku tidak suka waktu yang kita punya ini, karena membuatku ketakutan ketika kita kehilangan itu.

Bisakah kau mendengar hujan diatas?

Itu terdengar seperti pawai kecil dari malaikat.

Kumohon jangan tinggalkan aku disini, lihatlah aku menari.

Pointe fasse fouette

Setiap kali kita bertemu hujan lebat.

Aku tikus kecil yang kuyup, aku basah dengan selimut hujan dan aku memimpikanmu.

La la kau tahu,

Aku tahu kau tidak akan lagi kemari ketika musim panas berakhir,

Dan sekarang aku tahu kau akan kembali dan tanpa kata-kata atau petunjuk.

Itu pasti takdir.

Dunia adalah mimpi dalam hujan.

Cipratan air bersinar yang tidak kau lihat.

Awas.

Jangan menginjak ikan di kolam renang.

Aku tikus kecil yang kuyup, aku basah dengan selimut hujan dan aku memimpikanmu.

Biarkan aku mendengar suara detak jantungmu pada jari-jari kakiku.

Ketika kau menyentuhkan telingaku di dadamu.

Hujan sangat lebat.

Aku tikus kecil yang kuyup, disini basah dengan selimut hujan dan aku memimpikanmu.

Life is Like a Boat

Hidup itu tentang rasa sakit dan berkembang. Tanpa rasa sakit hidup ini akan jalan ditempat. Hidup itu seperti menaiki sepeda, kita harus terus bergerak agar tetap seimbang dan tidak terjatuh. Alasan kita malas untuk “menelan” sesuatu yang kurang pasti adalah karena ketidakpastian adalah teman dari rasa sakit. Selama ini kita membiarkan rasa takut akan ketidakpastian membutakan kita.

image
Keluar nyuk, jangan main hape melulu

Ketika kita sanggup melepaskan diri dari rasa takut itu, kita belajar untuk menghadapinya dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk mencapai tujuan hidup kita.

Sebagian orang ingin menjadi terkenal, tapi tidak bisa menghadapi kritikan dan penolakan dari audiens.

Beberapa orang ingin menjadi pribadi yang dicintai banyak orang, tapi mereka sendiri percaya bahwa dirinya tak cukup sempurna untuk dicintai orang-orang.

Semua orang ingin kaya, tapi tidak bisa menghargai setiap kerja keras sebagai sebuah proses menuju kesana.

Mereka pikir mereka benar benar menginginkan ketiga hal diatas, namun menolak semua “harga” yang menyertainya.

Dengan kata lain, mereka menolak untuk tumbuh lewat sebuah pengalaman.

Mereka berlindung dibalik comfort zone dan kata-kata ajaib “masih ada hari esok.”

Mereka merasa jika gagal berarti hidupnya akan berakhir.

Apakah kita semua kan berakhir menjadi orang tangguh yang ditempa oleh pengalaman? atau cukup nyaman untuk terus berlindung di belakang kalimat Masih ada hari esok? The choice is yours.

See you later…