FLOWER FLOWER, Sebuah Pilihan dan Jalan Kedewasaan

Tulisan ini tercipta setelah gue dengerin lagunya FLOWER FLOWER di mini album Takaramono. Kenapa? Karena gue ngerasa YUI terlihat dewasa banget di band barunya ini, gak asal genjrang-genjreng seperti pas masih solo dulu. Jujur, lagunya bagus sih cuma bikin ngantuk dan ngebosenin. FLOWER FLOWER lebih banyak main ambience, feelnya mirip seperti saat gue dengerin lagu-lagunya NOAH. Ngerti kan? Simplenya, YUI disini ngambil jalan yang sama seperti peterpan. Mungkin neng YUI terlalu cepat mendapatkan semuanya, bahkan saat usianya masih sangat muda. Mungkin agak aneh buat fans saat YUI ngambil keputusan buat hiatus, tapi gue langsung tahu bahwa itu adalah pernyataan pensiun secara halus. Mungkin karena itu sudah dua kali kejadian.

Sama seperti neng YUI yang sudah memilih jalannya, gue juga mulai khawatir sama yang namanya masa depan. Banyak teman gue yang sudah mulai nikah karena gak pengen anaknya nanti dewasa pas mereka sudah ketuaan. Dan gue yang bulan depan sudah 25 tahun masih gak kepikiran buat nikah, mungkin karena masa sekolah gue yang lurus kebangetan. Tapi saat ini gue sudah kerja kantoran, ngadepin teror deadline tiap minggu. Satu-satunya hal menyenangkan dari bekerja menurut gue cuma gajinya, yang dua minggu setelah terima langsung tinggal recehnya doang. Hari kamis sebelum Idul Adha, gue ngelihat dua anak SMA lagi ngadu moncongnya di depan Indomerit dekat tempat kerja gue. Gue aja yang sudah empat tahun pacaran gak pernah kayak begituan, mungkin gue aja yang cupu. Atau gue terlalu sibuk mikir sok filosofis tentang arti kedewasaan, sampai gak pernah kepikiran nyosor cewek gue. Apakah jalan kedewasaan yang gue ambil sudah benar, atau malah melenceng dari jalannya.

Kembali lagi ke neng YUI, gue kangen banget sama suaranya. Iseng gue buka channel vevonya neng YUI, isinya short version semua. Tapi ada satu video interview saat doi mutusin buat hiatus empat tahun lalu. Intinya sih seorang artist itu pasti akan mengalami tiga fase kehidupan. Fase pertama, dia akan menyanyi hanya untuk dirinya sendiri. Fase kedua, dia akan mempertimbangkan pendapat dari orang-orang disekitarnya. Fase ketiga, dia akan mulai bernyanyi untuk para penggemarnya, semacam persembahan kepada fans. Lagu I’ll Be dan Fight adalah contohnya. Persembahan untuk para penggemar.

Lalu hal barusan gue coba cari benang merahnya sama kehidupan dewasa gue. Sehari sebelum Idul Adha, gue nemuin jawabannya. Mungkin jawaban ini juga yang ditemuin sama neng YUI. Jadi alasan YUI hiatus mungkin karena doi udah merasa mencapai batasannya sebagai seorang YUI. Dia tidak akan berkembang jika tidak mencoba sesuatu yang lain.

Jawaban yang gue maksud adalah, sekuat apapun kita menolak untuk menjadi dewasa, entah bagaimana caranya kedewasaan itu yang akan menemukan kita.

Andaikan Kau Datang (NOAH/Koes Plus)

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau kutinggalkan

Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu

Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan kuberi
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi

Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu

Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan kuberi
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini… Oo…

Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kuberi
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini ku akhiri

Rencana Besar dan Sebuah Album yang Tidak Perlu…

Jauh sebelum tulisan yang agak ngaret ini dan bahkan sebelum membeli albumnya, gue sudah punya komentar tentang Sings Legends seperti judul tulisan ini.

Sebab setelah NOAH keluar dengan Second Chance, dimomen itu mereka masih berhutang tiga album pelengkap lainnya. Bukankah peterpan amat jauh berbeda dengan NOAH meski sama-sama terdiri dari line up empat orang eks peterpan. Kisah peterpan dan tiga album fenomenalnya tak perlu dipanjang-panjangkan. Cukup anggap mereka telah sirna sebagai ‘pahlawan’ musik Indonesia yang tujuh tahun setelah kematiannya tetap tak tergantikan di telinga orang Indonesia.

Sayangnya rencana besar NOAH dan Musica yang ingin mereboot tiga album tadi dengan semboyan Second Chance seperti sebuah project yang tak perlu. Ketika gue masih mencoba mencerna album Second Chance yang rilis tahun lalu, tiba-tiba NOAH dengan alaynya merilis album Sings Legends yang berarti reboot Taman Langit, Bintang di Surga dan Hari Yang Cerah bakal mundur lagi.

Bahkan jauh sebelum Sings Legends rilis, dan kabar album ini akan dibuat, gue sudah punya gambaran alternatifnya. Begini… Ariel jadi agak pesimistis, mungkin karena respon publik yang biasa-biasa saja terhadap Second Chance, dan setelah melalui beberapa pertimbangan reboot urung dilanjutkan. Mengingat debut solo Boriel tahun 2008 yang tak jadi disemaikan.

Tapi kerangka berpikir yang kadung mengakar dipikiran ini tak sanggup gue usir lantaran ekspektasi yang terlampau tinggi, setelah Seperti Seharusnya mampu menginfeksi sistem pendengaran gue empat tahun yang lalu.

Sejak peterpan menghilang selama beberapa waktu, karakter mereka amat tipikal; rasa british, lirik yang cerdas dengan pesona kuat namun vokalisnya sangat rentan tersambar gosip murahan.

peterpan adalah Ariel, Ariel adalah peterpan. Semurah apapun lirik yang dia lantunkan, karakter british singer selalu muncul orisinalitasnya. Sementara NOAH adalah sebuah entitas dari dalam perut bumi pembawa kesegaran baru di masa akhir kegelapan yang menaungi dunia musik kala itu. Karakter musiknya sangat berbeda dari profil mereka sebelumnya, namun kesan keren dan (sok) misteriusnya tetap ada.

Sings Legends memang sepenuhnya menawarkan ‘racun’ nostalgia. Apalagi jika yang mendengarnya generasi 80an. Pacar gue yang sewot banget karena NOAH tak kunjung punya album yang benar-benar fresh, malah senyum-senyum sendiri setelah nyimak album ini.
Selebihnya, Sings Legends hanya versi advance dari album recycle yang mengindikasikan keringnya ide para musisi dan penebusan Musica dan NOAH saat candu Second Chance kurang menggigit.

Tapi memang lagu lawas di Sings Legends agaknya perlu disegarkan dan disebarluaskan kepada generasi muda yang belum pernah mendengarnya. Sebab mereka bisa menentukan arah dan sikap, apakah cukup mendengar lagu-lagu kekinian khas Raisa dan Isyana atau perlu menengok megahnya musik Indonesia era generasi sebelumnya.

“Second Chance” Sebuah Jawaban dari NOAH untuk Sahabat

Banyak orang yang berpendapat termasuk Sahabat NOAH bahwa band ini beda 180° dari peterpan sejak pertama kali album Seperti Seharusnya beredar.

Kebanyakan mereka bilang liriknya gak seperti dulu lagi, yang kebanyakan berkisah tentang cinta, persahabatan dan hubungan manusia dengan Tuhan dengan Meminimalisir kata kata cinta secara frontal.

Beda dengan peterpan, NOAH lewat Seperti Seharusnya yang lebih frontal berbicara mengenai cinta cintaan antara sepasang kekasih.

Dan pada akhirnya banyak orang yang mulai berhenti mengikuti mereka pasca NOAH. Akan tetapi banyak juga orang orang awam yang tersihir dengan serangan balik Ariel selepas menjalani hukuman, melihat bagaimana dia bertahan dan kemudian bangkit lagi lewat Konser 2 Benua 5 Negara dalam sehari lalu berakhir menjadi Sahabat NOAH.

Soal materi lagu di album Seperti Seharusnya (2012) menurut gw album ini menjadi lebih kompleks dibanding album album peterpan sebelumnya, baik dari segi lirik maupun dari segi musiknya.

Terutama lagu Hidup Untukmu Mati Tanpamu

Satu satunya jejak peterpan mungkin terlihat di lagu Terbangun Sendiri, lagunya Uki buat Astoria yang disempurnakan oleh Ariel tapi malah nyasar ke album ini. Mendengar lagu ini seperti sebuah gambaran nyata keadaan si Vokalis ketika masih berada di “dalam” namun banyak Sahabat yang salah sangka mengenai arti liriknya.

Untuk orang orang yang kurang jeli, lagu ini terdengar seperti lagu cinta untuk lawan jenis…

Akan tetapi lewat lagu ini Ariel sebenarnya sedang curhat kepada Tuhan mengenai kejadian waktu itu…

Aku tak ingin terjaga.. Terjaga tanpaMu..

.
.

Oke tinggalkan tentang Terbangun Sendiri karena bukan itu inti dari tulisan gak jelas ini…

Seperti yang gw bilang diawal tadi, banyak yang beranggapan NOAH tak se “misterius” peterpan. Mungkin itu benar dan gw setuju, seenggaknya dilihat dari gaya Boriel pas manggung.

Tapi entah kenapa setelah rilisan album Second Chance gue mulai berpikir “Apa sih maunya mereka, bikin konsep album aneh kayak gini?” yang lebih aneh lagi Musica sepertinya yakin kalau album ini bakalan sukses.

image
Second Chance's artwork

Buat yang belum tahu, Second Chance punya konsep seperti boxset album yang didalamnya terdapat beberapa sub album. Secara keseluruhan Second Chance terbagi dalam 4 CD dan didalamnya terdapat 41 lagu, terdiri dari 3 lagu baru (Hero, Seperti Kemarin dan Suara Pikiranku) yang masuk di Second Chance.. bersama dengan 9 lagu lain.

Dan sisanya terbagi kedalam tiga album yaitu NOAH Bintang di Surga, NOAH Taman Langit dan NOAH Hari yang Cerah yang sampai sekarang belum jelas kapan akan dirilis.

Balik lagi soal Second Chance, Uki bilang lewat album ini NOAH pengen ngajak Sahabat NOAH buat dengerin peterpan di NOAH. Itu terdengar cukup bagus untuk dijadikan alasan merekam ulang kurang lebih 40 lagu dan merilisnya dalam satu momen.

Tapi gw nangkapnya lain…

Menurut persepsi gw, mungkin ada sebuah misi pembuktian yang sedang dilakukan NOAH lewat album ini.

Misi untuk ngomong ke orang orang bahwa “Hey, kami masih sama seperti dulu cuma namanya yang ganti!!” mungkin seperti itu.

Indikasi ini semakin jelas setelah 3 lagu barunya peterpan banget… Ya, Hero lalu Seperti Kemarin dan juga Suara Pikiranku terdengar mirip peterpan… Ini peterpan tapi bukan tapi peterpan.

Hero yang bisa dibilang “feelnya” Bintang di Surga banget,

Seperti Kemarin yang musiknya terdengar seperti gabungan antara Tak Bisakah dan Langit Tak Mendengar, dan gaya liriknya yang mirip Ada Apa Denganmu,

Lalu Suara Pikiranku yang gloomy banget.

Khususnya lagu Suara Pikiranku, lagu ini terkesan sangat gelap dan misterius. Mungkin sebelas duabelas dengan lagu Di belakangku, mulai dari liriknya yang terdengar seperti lagu tentang cinta.. Namun nuansa yang terbangun seperti lagu yang dinyanyikan oleh seseorang yang akan bunuh diri.

Pas pertama kali dengerin lagu ini, gw langsung kepikiran MUSE sama Radiohead.. Mungkin kalau Thom Yorke denger lagu ini dia bakalan bilang “Gile, lagu ini gue banget!!” dan gw harap itu bakal kejadian.

Intro nya saja sudah mirip sama lagu Di belakangku dengan taste yang lebih british, dan juga rintihan Boriel di reffnya juga sangat mirip.

Bahkan menurut temen gw di kantor lagu ini terasa “Angker” yang gue Aminin juga.

Terlepas itu, apapun latar belakang pembuatan album Second Chance ini.. Gw mau bilang kalau keraguan orang orang tentang ke peterpan an NOAH harusnya langsung menghilang, dan kemudian membawa mereka semua (Sahabat NOAH) kembali ke jalan yang benar, AMIN…