February love story

A/N: Jadi kenapa saya nulis blog lagi? Mungkin slump atau sejenisnya, tapi apapun itu saya sudah benar-benar berhenti ngeblog. So… bagaimana dengan tulisan ini? Saya hanya merasa harus menulisnya karena ini adalah masa dimana saya menemukan seseorang yang sangat penting dalam perjalanan saya (di luar keluarga tentunya). A perspective from a boy who has spent 5 years finding the “one” through dating and relationship.

3 Februari 2017

“…kayaknya kamu kok agak beda hari ini?” ucapnya. Wanita ini perlahan mulai mendekatiku seraya menempel erat lenganku dengan teduhnya tatapan sendu.

1 Februari 2017

Selama ini saya selalu tampil urakan dengan celana jeans yang pasti robek di bagian lututnya, sampai suatu saat Ibu saya ngomong begini, “Dek, kamu gak malu apa sama keluarga pacarmu tiap main (kesana) pake baju kayak gelandangan gitu?!”. Oke, saya setuju soal yang mirip gelandangan tapi toh si Tasya masih fine-fine aja sama penampilan saya. Alhasil saya putusin buat bergaya seperti biasanya pas jalan nanti, sampai… Ibu tiba-tiba buang semua koleksi jeans rombeng saya, entah kemana beliau buangnya karena saya cari kemana-mana gak ketemu juga.

Setelah itu saya keluar mau beli beberapa potong celana panjang di distro deket rumah (cuma pake kaos belel sama boxer doang) yang ternyata saya malah jadi pusat perhatian cewek-cewek yang baru pulang kuliah. Agak malu sih, tapi bodo ah. Disinilah masalah pertama muncul, ternyata yang jaga toko cewek. Satu hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, pas saya masuk dia malah teriak gini, “Eh, mau apa mas – jangan mesum ya!” dengan nada yang agak meninggi. Bingung mau ngasih respon seperti apa, spontan saya ambil beberapa lembar seratus ribuan dari kantong terus saya taruh di meja kasir.

Hari itu berakhir dengan banyak rasa malu yang masih menempel di badan (hingga hari ini).

2 Februari 2017

Saya serasa menjadi orang penting hari ini. Kenapa? Tanggal 2 Februari saya dijadwalkan buat ngasih kuliah umum di kampus saya dulu. Sebagai seorang alumni yang baik dan budiman serta rajin bercocok tanam tentu saja saya harus mau, meskipun saya paling males ngadepin orang banyak seperti ini, dalam acara ini dan di depan ABG pula. Faklah!!!

Hal pertama mengapa saya sangat menghindari acara resmi seperti ini adalah… setelan. Ya, kemeja-dasi-jas dan celana bahan terasa seperti lilitan ular piton di tubuh saya (pengalaman saat kerja). Hal kedua adalah pidato dan perbincangan dua arah, tapi saya berada dalam posisi yang tidak setara dengan lawan bicara. Hal ketiga, gak ada bayarannya… hahaha.

Hati kecil saya ngomong kurang lebih seperti ini, “Lagian di sana ada banyak cewek cakep, slow aja brur!” slow udelmu bodong. Apa gunanya pacaran 5 tahun, kalau masih lirik-lirik cewek lain.

Tolong abaikan paragraf terakhir!

Jadi apa yang mau saya bicarakan di forum itu? Embohlah, soalnya saya bebas mau bahas apapun… jadi ujung-ujungnya saya sharing masalah dunia kerja sebagai seorang penyandang predikat fresh graduate. Seperti soft skill saat tes wawancara, cara buat akrab dengan karyawan lain, godain sekretaris bos (bercanda bos saya gak pakai sekretaris), lalu bagi waktu antara masalah percintaan dengan pekerjaan.

Nah, bahasan terakhir itu malah jadi seperti acara stand up comedy. ABG-ABG jones sepertinya selalu tertarik kalau ada kata soal cinta. Setelah acara yang melelahkan itu, akhirnya lilitan dasi yang menyiksa ini terlepas juga.

Tapi ada satu pertanyaan dari forum tadi yang masih tertinggal di kepala saya.

“Bagaimana gaya anda saat bersama pasangan, apakah seperti kami (mahasiswa) atau selayaknya orang yang sibuk kerja (masih pake kemeja dan belum sempat ganti baju)?”

Pas sampai rumah hal itu masih saya pikirkan…

3 Februari 2017

Ini adalah hari di mana inti dari tulisan ini berkembang. Kencan!

Apakah saya harus jadi orang dewasa yang membosankan dengan segala kekikukkannya, atau tetap seperti biasanya seperti pemuda berumur seperempat abad dengan segala kebebasannya?

A/N lagi: Yah… intinya saya cuma bingung mau pakai baju seperti apa pas jalan nanti. #enoughwithwordpress

FLOWER FLOWER, Sebuah Pilihan dan Jalan Kedewasaan

Tulisan ini tercipta setelah gue dengerin lagunya FLOWER FLOWER di mini album Takaramono. Kenapa? Karena gue ngerasa YUI terlihat dewasa banget di band barunya ini, gak asal genjrang-genjreng seperti pas masih solo dulu. Jujur, lagunya bagus sih cuma bikin ngantuk dan ngebosenin. FLOWER FLOWER lebih banyak main ambience, feelnya mirip seperti saat gue dengerin lagu-lagunya NOAH. Ngerti kan? Simplenya, YUI disini ngambil jalan yang sama seperti peterpan. Mungkin neng YUI terlalu cepat mendapatkan semuanya, bahkan saat usianya masih sangat muda. Mungkin agak aneh buat fans saat YUI ngambil keputusan buat hiatus, tapi gue langsung tahu bahwa itu adalah pernyataan pensiun secara halus. Mungkin karena itu sudah dua kali kejadian.

Sama seperti neng YUI yang sudah memilih jalannya, gue juga mulai khawatir sama yang namanya masa depan. Banyak teman gue yang sudah mulai nikah karena gak pengen anaknya nanti dewasa pas mereka sudah ketuaan. Dan gue yang bulan depan sudah 25 tahun masih gak kepikiran buat nikah, mungkin karena masa sekolah gue yang lurus kebangetan. Tapi saat ini gue sudah kerja kantoran, ngadepin teror deadline tiap minggu. Satu-satunya hal menyenangkan dari bekerja menurut gue cuma gajinya, yang dua minggu setelah terima langsung tinggal recehnya doang. Hari kamis sebelum Idul Adha, gue ngelihat dua anak SMA lagi ngadu moncongnya di depan Indomerit dekat tempat kerja gue. Gue aja yang sudah empat tahun pacaran gak pernah kayak begituan, mungkin gue aja yang cupu. Atau gue terlalu sibuk mikir sok filosofis tentang arti kedewasaan, sampai gak pernah kepikiran nyosor cewek gue. Apakah jalan kedewasaan yang gue ambil sudah benar, atau malah melenceng dari jalannya.

Kembali lagi ke neng YUI, gue kangen banget sama suaranya. Iseng gue buka channel vevonya neng YUI, isinya short version semua. Tapi ada satu video interview saat doi mutusin buat hiatus empat tahun lalu. Intinya sih seorang artist itu pasti akan mengalami tiga fase kehidupan. Fase pertama, dia akan menyanyi hanya untuk dirinya sendiri. Fase kedua, dia akan mempertimbangkan pendapat dari orang-orang disekitarnya. Fase ketiga, dia akan mulai bernyanyi untuk para penggemarnya, semacam persembahan kepada fans. Lagu I’ll Be dan Fight adalah contohnya. Persembahan untuk para penggemar.

Lalu hal barusan gue coba cari benang merahnya sama kehidupan dewasa gue. Sehari sebelum Idul Adha, gue nemuin jawabannya. Mungkin jawaban ini juga yang ditemuin sama neng YUI. Jadi alasan YUI hiatus mungkin karena doi udah merasa mencapai batasannya sebagai seorang YUI. Dia tidak akan berkembang jika tidak mencoba sesuatu yang lain.

Jawaban yang gue maksud adalah, sekuat apapun kita menolak untuk menjadi dewasa, entah bagaimana caranya kedewasaan itu yang akan menemukan kita.

Ratusan Purnama dan Rindu yang Tersampaikan

Jauh sebelum gelisah ini tertuliskan, dan bahkan sebelum sekuel filmnya direncanakan, gue selalu percaya bahwa Ada Apa Dengan Cinta adalah kisah percintaan gue sama dia yang teradaptasikan dalam sebuah film atas kehendak Tuhan.

Kisah yang menggantung setelah ratusan purnama ini banyak menyimpan kegundahan para penggemarnya, terlebih mereka yang sedang menjalani Long Distance Relationship. Banyak temen yang merasa, harusnya kisah ini cukup ditutup dengan senyumnya Cinta saat membaca sajak yang ditinggalkan Rangga. Tapi cewek gue sontak gak setuju dan langsung ngomong bahwa Ada Apa Dengan Cinta hanyalah omong kosong jika berakhir tanpa kepastian. Dan gue setuju sama doi, soalnya semua hal yang terjadi pasti ada alasannya, dan alasan itulah yang akan menjawab ketidakpastian yang tertinggal di film pertama dan akan terjawab di sekuelnya, sebagai sebuah pelengkap yang manis.

Meski pertemuan mereka tak terjadi ketika bulan purnama (itu bahkan siang hari) paling tidak pertanyaan banyak orang di film pertama telah terjawab. Hal-hal canggung yang terjadi setelah sekian lama terpendam dalam ratusan purnama tadi adalah momen yang terlihat sangat nyata. Sedingin apapun sikap seorang laki-laki, pada akhirnya kehangatan sikap perempuan akan meluluhkannya juga.

Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah sebuah penantian. Sebuah penantian akan rindu yang hadir dalam setiap tanya. Bukan cuma milik Rangga dan Cinta semata, tapi rindu ini juga telah tersampaikan pada kami dalam setiap malam yang dilalui dengan diksi-diksi penuh keraguan.

Bila rindu ini, masih milikmu

Kuhadirkan sebuah tanya untukmu, harus berapa lama aku menunggumu? 

Eureka

Banyak yang bilang kalau Tuhan itu bekerja dengan cara yang misterius, benarkah? Menurut gue Tuhan tidak bekerja sama sekali. Mungkin Dia terlalu sibuk ngirim pertanda pertanda yang sulit dipahami oleh orang awam.

Tapi semua anggapan ini musnah saat gue ngalamin kejadian ajaib hari Rabu kemarin.

Gue berangkat kerja jam delapan lebih dari rumah. Tempat tinggal gue dipinggiran Jogja, tepatnya rumah orang tua maklumlah belum bisa beli rumah sendiri. Butuh jarak sekitar enam kilometer buat masuk ke kawasan Kota Yogyakarta.

Pas lagi ngebut gak ketulungan, gue ngelihat orang ngasih tanda nebeng dipinggir jalan. Kalau biasanya mungkin gue bakalan tak acuhin kejadian kayak gini, tapi entah kenapa gue nepi gitu aja.

Seorang mahasiswi UGM berkacamata dengan tahi lalat tipis dipipi. Dia bilang temannya yang punya motor gak jadi berangkat kuliah, bahkan dia nunjukkin BBMnya. Tanpa pikir panjang gue anterin aja, karena memang searah.

Gak terasa sudah sampai di kawasan kampus UGM, gue turunin doi di samping gedung MM UGM. Tanpa babibu gue langsung pengen ngebut lagi, tapi doi nahan tas selempang gue.

Sambil benerin rambut doi ngasih bungkusan plastik, yang entah apa isinya. Gue cuma cengar cengir sambil masukin bungkusan tadi ke tas.

Sampai di kantor, untung gak telat. Dan karena fokus kerja gue singkirin dulu hasrat buat ngecek isi bungkusan tadi.

Awal dari keajaiban…

Jam setengah lima sore gue udah nongkrong di depan Indomerit sama temen kantor, karena setengah empat jam kerja udah selesai. Gue ambil tuh bungkusan, isinya buku Bahasa Indonesia kelas 3 SD. Aneh bin ajaib, ngapain anak kuliahan bawa buku SD, terus ujung-ujungnya malah dikasih ke orang lain.

Disaat yang bersamaan ada seorang anak kecil dengan penampilan agak semrawut bawa beberapa lembar koran, tapi dia malah kayak lagi nulis sesuatu di buku tulis kumalnya.

Setelah ditanya, dia bilang lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia sambil jualan koran setengah harga yang gagal terjual sampai siang tadi dari salah satu kios.

Eureka!!!

Kok kayak film gini hidup gue… Tadi boncengin orang terus dikasih bungkusan, isinya buku pelajaran Bahasa Indonesia dan sekarang ketemu sama anak kurang beruntung yang sedikit lagi hampir roboh fisik dan mentalnya karena mengisi waktu bermainnya dengan ngerjain tugas dan bekerja.

Maksud elu apaan sih Tuhan? Itu kalimat yang gue pikirin setelah serentetan kejadian ganjil hari itu. Mungkin terdengar tidak sopan, tapi gue udah bosen dengan ke-misteriusan seperti ini.

Lalu…

Gue ingat sama omongan Bunda selama ini… “Orang yang mampu itu bukan dilihat dari apa yang dikenakannya, tapi dari apa yang diberikannya.”

Gue ngerasa jadi aktor utama di “Filmnya” Tuhan. Gue kasih bukunya ke anak tadi sambil ngambil dan ngulurin air mineral yang mungkin bisa menjadi oasis bagi hidupnya yang sedikit keras.

Pas udah pulang kerumah, gue ngerasa kalau Tuhan lagi posesif. Padahal gue selama ini selalu beranggapan bahwa Tuhan terlalu sibuk buat casting Dajjal dan nyiapin hari akhir sampai lupa buat ngasih perhatian sama hamba-hambaNya di Palestina. Nyatanya gue terlalu naif. Tuhan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Tuhan adalah sebaik-baik perencana.