Rencana Besar dan Sebuah Album yang Tidak Perlu…

Jauh sebelum tulisan yang agak ngaret ini dan bahkan sebelum membeli albumnya, gue sudah punya komentar tentang Sings Legends seperti judul tulisan ini.

Sebab setelah NOAH keluar dengan Second Chance, dimomen itu mereka masih berhutang tiga album pelengkap lainnya. Bukankah peterpan amat jauh berbeda dengan NOAH meski sama-sama terdiri dari line up empat orang eks peterpan. Kisah peterpan dan tiga album fenomenalnya tak perlu dipanjang-panjangkan. Cukup anggap mereka telah sirna sebagai ‘pahlawan’ musik Indonesia yang tujuh tahun setelah kematiannya tetap tak tergantikan di telinga orang Indonesia.

Sayangnya rencana besar NOAH dan Musica yang ingin mereboot tiga album tadi dengan semboyan Second Chance seperti sebuah project yang tak perlu. Ketika gue masih mencoba mencerna album Second Chance yang rilis tahun lalu, tiba-tiba NOAH dengan alaynya merilis album Sings Legends yang berarti reboot Taman Langit, Bintang di Surga dan Hari Yang Cerah bakal mundur lagi.

Bahkan jauh sebelum Sings Legends rilis, dan kabar album ini akan dibuat, gue sudah punya gambaran alternatifnya. Begini… Ariel jadi agak pesimistis, mungkin karena respon publik yang biasa-biasa saja terhadap Second Chance, dan setelah melalui beberapa pertimbangan reboot urung dilanjutkan. Mengingat debut solo Boriel tahun 2008 yang tak jadi disemaikan.

Tapi kerangka berpikir yang kadung mengakar dipikiran ini tak sanggup gue usir lantaran ekspektasi yang terlampau tinggi, setelah Seperti Seharusnya mampu menginfeksi sistem pendengaran gue empat tahun yang lalu.

Sejak peterpan menghilang selama beberapa waktu, karakter mereka amat tipikal; rasa british, lirik yang cerdas dengan pesona kuat namun vokalisnya sangat rentan tersambar gosip murahan.

peterpan adalah Ariel, Ariel adalah peterpan. Semurah apapun lirik yang dia lantunkan, karakter british singer selalu muncul orisinalitasnya. Sementara NOAH adalah sebuah entitas dari dalam perut bumi pembawa kesegaran baru di masa akhir kegelapan yang menaungi dunia musik kala itu. Karakter musiknya sangat berbeda dari profil mereka sebelumnya, namun kesan keren dan (sok) misteriusnya tetap ada.

Sings Legends memang sepenuhnya menawarkan ‘racun’ nostalgia. Apalagi jika yang mendengarnya generasi 80an. Pacar gue yang sewot banget karena NOAH tak kunjung punya album yang benar-benar fresh, malah senyum-senyum sendiri setelah nyimak album ini.
Selebihnya, Sings Legends hanya versi advance dari album recycle yang mengindikasikan keringnya ide para musisi dan penebusan Musica dan NOAH saat candu Second Chance kurang menggigit.

Tapi memang lagu lawas di Sings Legends agaknya perlu disegarkan dan disebarluaskan kepada generasi muda yang belum pernah mendengarnya. Sebab mereka bisa menentukan arah dan sikap, apakah cukup mendengar lagu-lagu kekinian khas Raisa dan Isyana atau perlu menengok megahnya musik Indonesia era generasi sebelumnya.

Pesta Perburuan

Akhirnya kebeli juga album baru Linkin Park bertajuk The Hunting Party, setelah sebelumnya cuma download doang…. well ini adalah akhir dari sebuah penantian

image

Dominasi alternative metal, hard rock dan rap rock yang bising bakal membuat telinga dan jantung berdegup!

Ini adalah album pertama yang dibuat LP tanpa campur tangan Rick Rubin . Menariknya, dua anggota LP, Mike Shinoda dan Brad Delson lah yang jadi produser.

Di dua album terdahulunya, LP sering bermain dengan sentuhan elektronika, sedikit berbeda kali ini. Bisa dibilang THE HUNTING PARTY adalah kisah perburuan LP yang ingin mengembalikan jiwa rock mereka. LP mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi seperti Page Hamilton dari Helmet, Rakim , Daron Malakian dari System Of A Down , dan Tom Morello dari Rage Againts The Machine .

Karena album ini didominasi alternative metal, hard rock dan rap rock yang bising bakal membuat telinga dan jantung berdegup. Teriakan Chester Bennington dipadu dengan vokal rap Shinoda mampu mengobati kerinduanmu akan musik rock di tahun 90-an. Tidak heran jika LP menggaet musisi dari era tersebut untuk lebih memberikan kesan rock era 90-an di sini. Jadi jangan harap untuk mendengarkan lagu berirama tenang dan kalem di album ini.

Mari mengulas sedikit track by track yang ada di
The Hunting Party

Keys To The Kingdom:
No control! No surprise! suara noise Chester dan ketukan drum langsung menyambut telinga sebagai track pembuka di album ini. Bisa dibilang ini adalah track campuran antara hardcore punk dan nu metal. Di akhir lagu kamu akan mendengar suara teriakan anak kecil “I’m not allowed to say certain things, aahhhh!! ”

All For Nothing :
Suara gitar yang berat dengan ketukan drum yang slow dipadu suara Mike Shinoda dengan aksi rap yang bercerita tentang perlawanannya menolak untuk mematuhi perintah. Page
menyumbang suaranya di chorus dan membuat lagu ini makin terasa nuansa alternative metalnya.

Guilty All The Same :
LP menggandeng hip hop rapper legendaris, yakni Rakim untuk mengisi lagu ini. Suara gitar dan ketukan drum yang cepat menjadi intro penyemangat sebelum suara khas Chester terdengar. Seolah mencari siapa yang salah,
Chester bercerita dan Rakim pun memberikan jawabannya.

The Summoning:
Sebuah interlude berdurasi satu menit untuk menyambut track War . Sebuah granat siap dilempar menuju medan peperangan.

War :
Track yang terdengar nge-punk ala Bad Religion disajikan dalam durasi 2:11. Minim lirik di lagu ini, lebih banyak memberikan ruang untuk Brad Delson bersolo aksi.

Wastelands :
Shinoda mengawali lagu dengan aksi hip hop rapnya dipandu suara drum dan bass. LP mengajak pendengar seolah sedang naik roller coaster , mereka sukses memainkan tempo dan suasana lagu. Di akhir lagu LP menempatkan outro yang menandakan track selanjutnya, Until It’s Gone .

Until It’s Gone:
Efek synth ala Numb mulai dimainkan di lagu ini, LP mengajak untuk kembali ke lagu-lagu awal karir. Suara gitar yang berat dan keras tiba-tiba berubah menjadi elektro-rock berirama pelan kemudian kembali ke awal. Telinga benar-benar dimanjakan dengan naik turunnya ritme dalam lagu ini.

Rebellion :
Track bertempo cepat hasil kolaborasi dengan gitaris dari System Of A Down , Daron Malakian . Suara vokal Shinoda menguasai lagu ini dan hanya menyisakan part untuk Chester di akhir lagu.

Mark The Graves :
Sebuah lagu dinamis yang akan mempermainkan telinga pendengar dengan nada tinggi dan rendah. Dengan style permainan gitar ala tahun 90-an yang mengingatkan pada
Metallica . Lagu ini ditutup dengan nada yang akan mengarahkan pendengar ke track selanjutnya, Drawbar .

Drawbar :
Track instrumental kedua di album THE HUNTING PARTY dengan durasi 2:46 yang keren! LP berkolaborasi dengan Tom Morello dari Rage Againts The Machine . Suara permainan piano yang suram disambut parade drum serta permainan gitar Tom membuat lagu ini makin terdengar dramatis.

Final Masquerade :
Hampir sama dengan Until It’s Done, LP bermain dengan musik ‘lawas’ mereka. Synths, sedikit elektronika dan suara vokal melodik Chester mendominasi track ini.

A Line In The Sand :
Track terakhir di album Hunting Party ini memberikan semua keseluruhan apa yang dimiliki LP . Kualitas musik dan vokal semua seolah dikeluarkan di track ini. Irama di lagu ini hampir sama dengan Guilty All The Same yang bermain dengan tempo cepat.

TRACKLIST
1. Keys to the Kingdom
2. All for Nothing (featuring Page Hamilton)
3. Guilty All the Same (featuring Rakim)
4. The Summoning
5. War
6. Wastelands
7. Until It s Gone
8. Rebellion (featuring Daron Malakian)
9. Mark the Graves
10. Drawbar (featuring Tom Morello)
11. Final Masquerade
12. A Line in the Sand