Pergi dengan Banyak Kenangan

Sinar matahari yang bagi banyak orang bisa menyehatkan dan menghangatkan, tapi bagi beberapa orang justru seperti racun. Film Taiyou no Uta menceritakan tentang gadis muda bernama Kaoru Amane (YUI) yang menderita XP (Xeroderma Pigmentosum) yang membuat penderitanya tidak boleh terpapar sinar matahari, karena dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada kulit yang membahayakan nyawanya.

Sehari-hari Kaoru hanya menyaksikan kehidupan di luar dari balik jendela dan mengamati seorang laki-laki bernama Fujishiro Kouji (Takashi Tsukamoto) yang biasa nongkrong di halte bus, sebelum berangkat sekolah. Malam harinya, Kaoru melihat Kouji melintas di depannya ketika sedang bermain gitar bersama Misaki (Airi Toyama) di taman.

Kaoru langsung mengejarnya dan tanpa sengaja mendorong Kouji dari belakang. Setelah itu Kaoru mulai mengoceh tidak karuan dan Kouji hanya kebingungan melihat tingkah Kaoru. Di malam berikutnya, mereka kembali bertemu secara tak sengaja, keduanya berpapasan saat Kaoru menyanyi di halte bus. Dan mulai malam itu keduanya semakin dekat dan Kouji mengajaknya berkencan.

Ketika hubungannya dengan Kouji semakin membaik dan akan rekaman untuk pertama kalinya, saraf tangannya sudah mulai tak berfungsi. Kini ia sadar tak akan bisa memainkan gitar sepanjang hidupnya, padahal umurnya masih belasan (Tuhan… Skenario macam apa ini!!!). Tangan yang mulai membantah perintah otaknya adalah sebuah tanda bahwa sebentar lagi dia akan segera lumpuh lalu meninggal dunia.

Gue gak bisa membayangkan seperti apa perasaan kedua orang tuanya saat mendengar hal ini dari dokter. Ayahnya bilang bahwa dia terpaksa bersikap kasar pada Kaoru untuk mencegahnya bermain keluar saat masih kanak-kanak dulu.

Kaoru duduk di kursi roda dengan pakaian khusus anti sinar matahari

Lalu dalam salah satu scene, Kaoru bilang pada ayahnya bahwa dia ingin berusaha untuk hidup dengan segala kekuatannya.

Dulu ia selalu menangis ingin pergi keluar, dia anak perempuan yang selalu hidup dalam kegelapan. Aku baru sadar ia telah dewasa.

Kayaknya gue gak bisa terusin tulisan ini, dari tadi mata gue udah hujan.

Aku akan sangat senang jika bisa hidup seperti manusia normal. Hanya itu yang kuinginkan.

Setelah Kaoru meninggal dunia, gue baru sadar apa pesan yang ingin disampaikan dari film ini. Kalau benar ada perpisahan abadi dengan dunia ini, maka yang harus kita tinggalkan adalah kehidupan dan kenangan yang indah bersama orang-orang yang kita sayangi.

* Filmnya harus ditonton!!!

Satu Juta Yen dan Sebuah Pelarian

Suzuko (Yu Aoi) masih bingung, apakah keputusannya untuk pergi ke tempat asing dimana tak seorangpun mengenalnya adalah hal yang tepat ataukah hanya sebuah sikap pengecut yang selama ini dipendamnya? Hubungan dengan adik lelakinya dan keluarga yang tampak berantakan, dia memutuskan untuk hidup mandiri dengan menyewa apartemen dengan salah satu teman kerjanya, namun keadaan semakin memburuk ketika dia tersangkut masalah hukum. Motif itulah yang melatarbelakangi niatnya untuk menjauh dari lingkungannya.

Tapi yang tak bisa dibantah, Suzuko berusaha tegar dan menjalani hari-harinya dengan menabung satu juta yen di setiap kota yang disinggahinya lalu pergi ke tempat berikutnya. Dalam usahanya untuk menjauh, perempuan ini mencari kerja apapun yang ditemuinya. Pada salah satu scene, Suzuko mengatakan bahwa dia tidak sedang mencari jati diri, namun malah mencoba untuk meninggalkan siapa dirinya yang sesungguhnya dan berusaha melupakan bahwa dia hanyalah perempuan dengan segudang masalah yang mempunyai catatan kriminal. Dia bahkan tak punya ponsel, karena merasa tak punya teman.

One Million Yen and the Nigamushi Woman menjadi film yang layak tonton, bahkan harus ditonton sebelum kita meninggal. Gue merasa bahwa film ini adalah jawaban bagi orang-orang yang merasa kenal dengan jati dirinya, padahal tidak sama sekali.

Kisah cinta dan hakekat kehidupan melengkapi drama sederhana ini. Boleh jadi, ketika kita menganggap diri sendiri tidak menarik, tapi pada kenyataannya kita punya banyak hal yang bisa dibanggakan, meskipun itu adalah hal yang sepele dan kurang berguna sekalipun. Di setiap tempat yang dikunjunginya, selalu ada pujian yang mengalir dari orang-orang sekitar.

Saat bekerja di toko pinggir pantai, Suzuko dipuji bosnya karena es serut yang dibuatnya lebih baik, dan seketika membuatnya dikenal banyak pengunjung. Meskipun dia merasa senang karena pujian ini, namun menurutnya membuat es serut bukanlah keahlian yang penting.

Saat bekerja di perkebunan, tugasnya adalah memanen buah persik. Lagi-lagi dia mendapat pujian yang serupa, bahkan nyaris diangkat sebagai public relationship di kota ini, dengan julukan Gadis Persik.

Di kota berikutnya, rahasia!!! Gue gak akan terusin, biar kalian simak sendiri hal menarik apa yang terjadi.

Yang pasti ending dari film ini akan menyadarkan kita, bahwa tak semua hal yang terlihat adalah hal yang sesungguhnya terjadi. Dan gue jadi pengen ke Jepang. 🙂

Ratusan Purnama dan Rindu yang Tersampaikan

Jauh sebelum gelisah ini tertuliskan, dan bahkan sebelum sekuel filmnya direncanakan, gue selalu percaya bahwa Ada Apa Dengan Cinta adalah kisah percintaan gue sama dia yang teradaptasikan dalam sebuah film atas kehendak Tuhan.

Kisah yang menggantung setelah ratusan purnama ini banyak menyimpan kegundahan para penggemarnya, terlebih mereka yang sedang menjalani Long Distance Relationship. Banyak temen yang merasa, harusnya kisah ini cukup ditutup dengan senyumnya Cinta saat membaca sajak yang ditinggalkan Rangga. Tapi cewek gue sontak gak setuju dan langsung ngomong bahwa Ada Apa Dengan Cinta hanyalah omong kosong jika berakhir tanpa kepastian. Dan gue setuju sama doi, soalnya semua hal yang terjadi pasti ada alasannya, dan alasan itulah yang akan menjawab ketidakpastian yang tertinggal di film pertama dan akan terjawab di sekuelnya, sebagai sebuah pelengkap yang manis.

Meski pertemuan mereka tak terjadi ketika bulan purnama (itu bahkan siang hari) paling tidak pertanyaan banyak orang di film pertama telah terjawab. Hal-hal canggung yang terjadi setelah sekian lama terpendam dalam ratusan purnama tadi adalah momen yang terlihat sangat nyata. Sedingin apapun sikap seorang laki-laki, pada akhirnya kehangatan sikap perempuan akan meluluhkannya juga.

Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah sebuah penantian. Sebuah penantian akan rindu yang hadir dalam setiap tanya. Bukan cuma milik Rangga dan Cinta semata, tapi rindu ini juga telah tersampaikan pada kami dalam setiap malam yang dilalui dengan diksi-diksi penuh keraguan.

Bila rindu ini, masih milikmu

Kuhadirkan sebuah tanya untukmu, harus berapa lama aku menunggumu? 

Rencana Besar dan Sebuah Album yang Tidak Perlu…

Jauh sebelum tulisan yang agak ngaret ini dan bahkan sebelum membeli albumnya, gue sudah punya komentar tentang Sings Legends seperti judul tulisan ini.

Sebab setelah NOAH keluar dengan Second Chance, dimomen itu mereka masih berhutang tiga album pelengkap lainnya. Bukankah peterpan amat jauh berbeda dengan NOAH meski sama-sama terdiri dari line up empat orang eks peterpan. Kisah peterpan dan tiga album fenomenalnya tak perlu dipanjang-panjangkan. Cukup anggap mereka telah sirna sebagai ‘pahlawan’ musik Indonesia yang tujuh tahun setelah kematiannya tetap tak tergantikan di telinga orang Indonesia.

Sayangnya rencana besar NOAH dan Musica yang ingin mereboot tiga album tadi dengan semboyan Second Chance seperti sebuah project yang tak perlu. Ketika gue masih mencoba mencerna album Second Chance yang rilis tahun lalu, tiba-tiba NOAH dengan alaynya merilis album Sings Legends yang berarti reboot Taman Langit, Bintang di Surga dan Hari Yang Cerah bakal mundur lagi.

Bahkan jauh sebelum Sings Legends rilis, dan kabar album ini akan dibuat, gue sudah punya gambaran alternatifnya. Begini… Ariel jadi agak pesimistis, mungkin karena respon publik yang biasa-biasa saja terhadap Second Chance, dan setelah melalui beberapa pertimbangan reboot urung dilanjutkan. Mengingat debut solo Boriel tahun 2008 yang tak jadi disemaikan.

Tapi kerangka berpikir yang kadung mengakar dipikiran ini tak sanggup gue usir lantaran ekspektasi yang terlampau tinggi, setelah Seperti Seharusnya mampu menginfeksi sistem pendengaran gue empat tahun yang lalu.

Sejak peterpan menghilang selama beberapa waktu, karakter mereka amat tipikal; rasa british, lirik yang cerdas dengan pesona kuat namun vokalisnya sangat rentan tersambar gosip murahan.

peterpan adalah Ariel, Ariel adalah peterpan. Semurah apapun lirik yang dia lantunkan, karakter british singer selalu muncul orisinalitasnya. Sementara NOAH adalah sebuah entitas dari dalam perut bumi pembawa kesegaran baru di masa akhir kegelapan yang menaungi dunia musik kala itu. Karakter musiknya sangat berbeda dari profil mereka sebelumnya, namun kesan keren dan (sok) misteriusnya tetap ada.

Sings Legends memang sepenuhnya menawarkan ‘racun’ nostalgia. Apalagi jika yang mendengarnya generasi 80an. Pacar gue yang sewot banget karena NOAH tak kunjung punya album yang benar-benar fresh, malah senyum-senyum sendiri setelah nyimak album ini.
Selebihnya, Sings Legends hanya versi advance dari album recycle yang mengindikasikan keringnya ide para musisi dan penebusan Musica dan NOAH saat candu Second Chance kurang menggigit.

Tapi memang lagu lawas di Sings Legends agaknya perlu disegarkan dan disebarluaskan kepada generasi muda yang belum pernah mendengarnya. Sebab mereka bisa menentukan arah dan sikap, apakah cukup mendengar lagu-lagu kekinian khas Raisa dan Isyana atau perlu menengok megahnya musik Indonesia era generasi sebelumnya.