Langit Tak Mendengar

Pernah suatu waktu aku sampai pada titik untuk menyerah, bahkan langit yang setua itu pun tak mampu untuk menjawab persoalan ini. Yang kumaksud adalah berubah yang sessungguhnya, bukan sekedar mengganti minuman dari es teh ke teh hangat, merubah pandangan politik, merubah keyakinan, atau merubah pola diet sesuai dengan artikel di majalah mingguan. Aku bicara tentang perubahan yang nyata perubahan yang mendalam sebagai manusia yang tak kehilangan kemanusiaannya.

Kalau cuma sekedar berubah itu mudah, hal hal yang terlalu rumit di dalam hati tak berubah cuma sekedar berubah di permukaan saja.

Jadi mengapa perubahan sejati itu sulit? Ternyata tak sesulit itu, yang membuat sulit ataupun mudah adalah diri sendiri. Kebanyakan orang sudah takut duluan untuk sekedar mencoba, karena perubahan yang nyata akan merubah seluruh kebiasaan kita sebelumnya. Itu bagian yang seperti orang tua kita ajarkan kepada anak-anaknya bahwa perubahan itu buruk, tapi tetap harus dilakukan. Hidup menjadi sangat terstruktur, pola yang sama berulang terus dan terus dari generasi ke generasi, KEHIDUPAN YANG TERUS BERULANG SETIAP HARINYA seperti menonton serial yang sudah tamat berkali kali. Anak pergi ke sekolah dan terus berulang beberapa tahun ke depan, kemudian mereka mencari pekerjaan, dan akhirnya mereka semakin terjerembab ke dalam kehidupan yang ditentukan oleh tradisi manusia modern.

DREAM to cans

Kau bisa membiarkan semua hal itu pergi sekarang juga, kita benar benar bebas untuk melakukan sesuatu sekarang. Jika masih takut untuk mengikuti kata hati, hapus kosakata bebas dari kepala…

Iklan

2 thoughts on “Langit Tak Mendengar

    1. Sebenarnya keduanya sih, setiap orang pasti berubah dan ingin berubah tentunya dan untuk berubah mereka harus bebas terlebih dulu.. 🙂

      langit sebenarnya adalah personifikasi dari orang tua, pendidik atau sistem dan aturan yang seakan berbeda dimensi dengan generasi di bawahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s